BPBD Provinsi Kepri Kirim Tim Bantu Cari Korban Diterkam Buaya di Kabupaten Bintan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Riau menurunkan 16 personil Tim Reaksi Cepat (TRC) mencari Rina (13) korban hilang diterkam buaya di Kabupaten Bintan.

Personil TRC BPBD Kepri turut membawa peralatan evakuasi seperti 1 unit rubber boat, 2 unit mobil rescue, 1 unit ambulance, 1 unit peralatan penerangan, serta Alat Pelindung Diri (APD).

Personil TRC berkoordinasi dengan tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Tanjungpinang, Polairud Polres Bintan, BPBD Bintan, Lanudal Tanjung Pinang, Tagana Bintan, relawan dan masyarakat setempat. Basarnas bertugas sebagai koordinator pencarian korban.

“Tanggal 25 April, kita turunkan personil dan peralatan TRC BPBD ikut serta dalam operasi SAR mencari korban,” kata Yeni, Kepala Bidang Kedaruratan, Pusdalob PB dan Logistik Peralatan BPBD Kepri. Ia menuturkan, setelah tiga hari, operasi pencarian membuahkan hasil, jasad korban ditemukan di Jembatan Lintas Barat, Kabupaten Bintan.

Jasad korban pun sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Raja Ahmad Thabib di Kota Tanjungpinang.

Yeni pun mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dalam beraktivitas di pantai yang dekat dengan hutan mangrove yang menjadi habitat buaya air asin.

Dibandingkan pantai terbuka, buaya air asin kerap mencari makan di pantai dengan hutan mangrove.

“Buaya suka tinggal di pantai mangrove karena ada makanannya seperti burung dan ular, pantainya juga basah dan berlumpur. Beda dengan pantai yang biasa,” tambahnya.

Selain itu, Yeni juga mengimbau masyarakat agar mengenali informasi bohong atau hoax soal musibah ini yang belum diketahui kebenarannya.

Diketahui, saat kejadian itu, beredar video berdurasi 28 detik yang menghebohkan media sosial. Video memperlihatkan buaya menerkam seorang anak di sebuah sungai.

Setelah ditelusuri, video itu diunggah akun youtube MrDay Zampiet 8 bulan lalu dan tidak berhubungan dengan musibah di Bintan.