Meluruskan Mispersepsi mengenai takdir kebencanaan oleh Dr. H. Abdul Basir, S.Ag., M.Pd BPBD Provinsi Kepulauan Riau

Sebagai negara kepulauan Indonesia yang terletak di Kawasan pertemuan tiga lempengan yang dikenal sebagai suatu negara yang terletak dalam jalur The Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang di antara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Zona aktif inilah yang menyebabkan seringnya terjadi gempa besar dan erupsi gunung api di seluruh daratan benua yang dilaluinya termasuk Indonesia. Zona kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik ini amat terkenal, karena setiap gempa hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu dipastikan menelan korban jiwa manusia yang tidak sedikit.

Setiap peristiwa bencana dan segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini merupakan sunnatullah yang musti terjadi. Bencana suatu fakta kehidupan yang tidak dapat di pungkiri acapkali muncul dengan tiba tiba sehingga menimbulkan kerusakan serta dampak negative lainnya bagi kehidupan manusia. Bencana alam terjadi seringkali di sandarkan semuanya atas kehendak Allah ( Takdir dari Allah ) tanpa ada pesan manusia sebagai penyebab dari terjadinya suatu bencana. Padahal di antara sekian banyaknya bencana yang terjadi adalah atas sebab ulah dan kesalahan manusia itu sendiri terhadap alam. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut yang artinya : Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu maka itu dari kesalahan darimu sendiri ( Annisa ayat 79.) dari dalil lain juga di jelaskan bahwa suatu bencana yang datang kepada kita adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri dan Al-Qur’an menjelaskan dalam surah Asy Syura ayat 30 .

Jika kita berbicara soal takdir tentunya tidak terlepas dari kehendak Allah SWT, takdir dalam pengertian segala ketentuan, undang undang dan peraturan hukum yang di tetapkan secara pasti oleh Allah SWT untuk segala yang ada ( Maujud ) yang mengikat antara sebab dan akibat segala sesuatu yang terjadi. Dalam memahami takdir seringkali seseorang terjebak dengan dua kesalahan Pemahaman konsep yang pertama Mispersepsi terhadap takdir termasuk takdir kebencanaan dan kemudian mispersepsi terhadap takdir kebencanaan tersebut adalah :

Pertama, bencana terjadi tergantung kepada kehendak Allah SWT, sehingga manuasia tidak mampu mempunyai pilihan dalam melakukan sesuatu. Mereka memahami Al Quran terntang kemutlakan kehendak Allah SWT tanpa memahami bahwa Allah juga memberikan masyiah kepada manusia untuk melakukan Upaya ikhtiar.

Mispersepsi terhadap takdir timbul karena pemahaman yang parsial terhadap ajaran islam. Jika di kaitkan dengan konsep takdir dengan perbuatan manusia adalah kita harus meyakini bahwa Allah SWT maha berkehendak atas segala sesuatu. Manusia sebagai makhluk tidak mempunyai kebebasan untuk menerima ataupun menolak. Juga diikuti dengan keyakinan bahwa Allah SWT yang maha adil dengan memberikan kebebasan kepasda manusia sebagai makhluk mukhyar.

Bencana adalah sebuah fenomena yang tidak dapat di ketahui secara pasti kapan terjadinya, namun manusia hanya mampu mengenali gejala-gejala awal dan memprediksikan terjadinya. Sebagai bentuk tanggungjawab terhadap alam maka setiap di antara kita wajib berperan aktif dalam melakukan Tindakan preventif supaya terhindar dari bencana alam maupun non alam dan dalam hal ini kita mempunyai dua Tindakan preventif dalam konteks bencana adalah sebagai berikut bahwa manusia harus memahami kualitas hukum sebab akibat terjadinya bencana, artinya manusia harus memiliki pemahaman yang benar dan utuh terhadap terjadinya bencana. Dan yang kedua manusia harus memahami tugas dan fungsinya atau perannya sebagai khalifah ( Wakil Allah di Muka Bumi ini ) dalam mengatur dan menjaga Alam ini.